Berita Terbaru

Digestive Day

Setiap makanan dan minuman yang Anda konsumsi sehari-hari akan dicerna untuk diambil nutrisinya dan kemudian dimanfaatkan tubuh. Itu kenapa organ pencernaan menjadi salah satu fondasi yang paling penting untuk memelihara kesehatan tubuh. Lalu, seperti apa ciri-ciri sistem pencernaan yang sehat? Bagaimana caranya menjaga kesehatan organ dan fungsi pencernaan tubuh?

Memahami proses pencernaan dalam tubuh

Banyak yang menganggap proses pencernaan makanan baru akan terjadi di perut. Padahal, proses itu sebenarnya sudah dimulai sejak pertama kali makanan masuk ke dalam mulut.

Makanan yang masuk ke dalam mulut akan dihancurkan oleh gigi setiap kali Anda mengunyah, kemudian dilumatkan dengan bantuan air liur. Air liur mengandung enzim yang bekerja menghaluskan tekstur makanan untuk mempermudah kerja organ pencernaan di perut.

Setelah dari mulut, makanan akan ditelan dan mengalir lewat kerongkongan sampai ke lambung. Di lambung, pecahan makanan itu akan dihaluskan lagi dengan bantuan asam lambung dan enzim lainnya sampai menjadi materi sangat kecil untuk kemudian dikirimkan ke usus kecil.

Di usus kecil, makanan masih akan terus dicerna dengan bantuan Enzim yang diproduksi oleh pankreas dan hati. Tujuan dari proses ini adalah untuk mengambil dan menyerap nutrisinya, yang selanjutnya akan disalurkan ke seluruh tubuh.

Begitu sebagian besar nutrisi telah diserap, sisanya akan diserap oleh hati. Di dalam hati, cairan empedu akan menyaring zat-zat sisa yang ternyata tidak diperlukan. Zat sisa ini kemudian akan dialirkan balik ke usus besar. Di usus besar, zat limbah tersebut akan diolah bersama sisa makanan untuk dipadatkan menjadi feses.

Feses akan disimpan dalam usus besar sampai otot pencernaan Anda berkontraksi dan akhirnya dikeluarkan melalui anus.

Tanda-tanda sistem pencernaan Anda sehat dan normal

Kita umumnya langsung bisa tahu pencernaan sedang bermasalah jika tiba-tiba sakit perut, mengalami diare, atau sembelit (susah buang air besar). Nah, kadang berbagai masalah ini juga bisa muncul tanpa gejala yang jelas terasa sehingga kita merasa baik-baik saja.

Lantas, bagaimana caranya mengetahui kerja sistem pencernaan kita benar-benar sehat? Kesehatan kerja organ cerna biasanya ditujukkan dalam delapan tanda umum seperti di bawah ini:

  1. Buang air besar teratur 

Frekuensi Buang Air Besar yang normal untuk setiap orang bisa berbeda-beda. Namun umumnya, rutinitas BAB yang bisa dikatakan sehat adalah sekitar 3-4 kali dalam seminggu. Ada pula beberapa orang yang memang terbiasa BAB setiap hari. Ini tergolong normal karena setiap orang punya metabolisme yang berbeda di tubuhnya.

Pola buang air besar yang teratur dan tidak terasa sakit menandakan kerja pencernaan Anda bekerja dengan baik. Pola yang teratur di sini maksudnya tidak tiba-tiba berubah, dalam artian tidak semakin jarang atau malah semakin sering dari biasanya.

Jika Anda tiba-tiba merasa kesusahan BAB atau frekuensinya kurang dari 3 kali dalam seminggu, ini cenderung dikatakan sebagai sembelit. Sementara jika pola BAB Anda tiba-tiba makin sering bisa dianggap sebagai diare.

  1. Feses berwarna cokelat dan tidak keras

Buang air besar rutin saja tidak cukup menggambarkan sistem pencernaan Anda betul-betul sehat. Untuk memastikan lebih lanjut, lihatlah bentuk dan warna feses yang keluar saat BAB. Kondisi feses dapat mewakili seberapa sehatnya Anda.

Feses terbuat dari 75% air dan 25% kombinasi materi padat yang terdiri dari sisa makanan, bakteri mati, racun dan limbah sisa hasil metabolisme tubuh, dan lain sebagainya. Proses pembuatan feses dalam usus biasanya berlangsung selama 3 hari. Seberapa cepat atau lamanya proses ini berlangsung dapat menentukan bentuk, ukuran, warna dan tekstur feses Anda.

Feses hasil dari sistem pencernaan yang sehat umumnya bertekstur lembut dan lunak, dengan bentuk lonjong panjang mirip sosis, dan berwarna coklat. Feses yang sehat seharusnya tidak mengandung potongan makanan yang tidak tercerna dan baunya tidak menyengat.

Feses yang sehat juga mudah dikeluarkan dan umumnya akan tetap utuh saat disiram.

  1. Kentut dan sendawa beberapa kali dalam sehari

Kentut sering dianggap sebagai hal yang memalukan, sementara sendawa dianggap tidak sopan. Padahal, dua reaksi tubuh ini termasuk normal dan bahkan menandakan pencernaan Anda sehat, lho!

Sendawa dan kentut adalah cara tubuh mengeluarkan gas yang diproduksi selama proses pencernaan makanan. Gas ini dihasilkan ketika bakteri yang hidup di usus besar bekerja memecah sisa makanan yang datang dari usus kecil.

Selain itu, makanan tertentu seperti gandum, brokoli, kecambah (toge), kembang kol, dan kacang polong, dapat menyebabkan bakteri di pencernaan sulit mencerna dan akhirnya memproduksi gas di dalam perut. Gas kemungkinan juga bisa menumpuk dalam perut karena Anda ikut menelan udara saat makan atau minum.

Dikutip dari Everyday Health, dr. Svetang Desai, ahli gastroenterologi dari Duke University Medical Center di Durham, manusia bisa buang gas (dari kentut atau sendawa) sampai 14 kali dalam sehari. Hal ini termasuk normal.

  1. Berat badan Anda stabil

Salah satu ciri pencernaan sehat adalah angka berat badan yang stabil. Maksudnya, berat badan Anda tidak tiba-tiba melonjak naik atau turun drastis dalam waktu singkat, tanpa dimulai dengan diet atau olahraga.

Perubahan berat badan secara mendadak dapat menandakan kerja usus tidak maksimal dalam menyerap nutrisi, entah karena mengalami kerusakan (akibat penyakit atau cedera) atau populasi bakteri di dalamnya terganggu dan tidak seimbang.

Penurunan berat badan secara tiba-tiba dapat disebabkan oleh pertumbuhan bakteri di usus kecil secara berlebihan. Kondisi ini disebut SIBO, tapi bukan menandakan penyakit infeksi. Bakteri yang tumbuh berlebih justru akan memakan nutrisi dari makanan Anda untuk dirinya sendiri, sehingga Anda jadi kekurangan.

Sementara berat badan yang bertambah drastis mungkin dipicu oleh keinginan untuk makan berlebihan karena usus tidak berfungsi maksimal saat menyerap nutrisi.

Ketidakseimbangan bakteri usus juga dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk mengatur gula darah dan menyimpan lemak, sehingga memengaruhi kestabilan berat badan.

  1. Mood atau suasana hati stabil

Pencernaan yang sehat dan berfungsi optimal bisa diwakili oleh seberapa baik suasana hati Anda saat ini. Para peneliti menyadari bahwa perubahan emosi drastis dapat menandakan seseorang sedang terkena irritable bowel syndrome, diare, kembung, atau sakit perut tanpa sebab. Mereka pun juga setuju bahwa gangguan pencernaan dapat mengubah emosi atau suasana hati.

Pasalnya, kerja otak dan organ cerna saling terhubung satu sama lain. Di otak ada kumpulan serabut saraf yang peran utamanya mengendalikan pencernaan. Sistem saraf di otak juga mengendalikan aliran darah yang membantu menyerap nutrisi makanan hingga nantinya menjadi feses.

Nah, peneliti menemukan bahwa iritasi pada sistem pencernaan dapat mengirim sinyal ke sistem saraf pusat di otak bahwa ada sesuatu yang salah dalam tubuh. Hal ini kemudian jadi memicu perubahan suasana hati. Temuan ini juga sekaligus menjelaskan mengapa orang yang punya IBS atau penyakit usus kronis lebih rentan mengalami depresi dan kecemasan.

Apabila Anda sering mengalami mood swing atau bahkan gejala depresi, coba periksakan ke dokter spesialis penyakit dalam untuk memastikan pencernaan Anda baik-baik saja.

  1. Kulit Anda sehat

Kulit yang sehat dan lembut pada dasarnya dipengaruhi oleh sistem pencernaan yang sehat. Jika organ cerna Anda bermasalah, sebetlunya tidak mengherankan jika kulit jadi mudah iritasi.

Jaringan kulit dan usus sama-sama bersifat sensitif dan mudah menyerap sesuatu. Maka, keduanya sama-sama bisa langsung bereaksi negatif ketika terjadi peradangan dalam tubuh.

Peradangan di usus sering disebabkan karena pola makan yang buruk atau alergi makanan. Hal ini dapat menyebabkan protein tertentu “bocor” ke dalam jaringan kulit, yang seharusnya tidak terjadi.

Akibatnya jaringan kulit menganggap protein tersebut sebagai zat asing yang harus dilawan dan memunculkan reaksi iritasi seperti kondisi eksim.

  1. Rambut kuat dan lebat, tidak rontok

Sistem pencernaan yang sehat juga ditandai dengan menghasilkan rambut yang sehat. Menurut Jurnal Inflamatory Tahun 2013 orang yang mengalami radang usus rambutnya rentan mengalami kerontokan.

Meski belum diketahui apa penyebab pastinya, ada dugaan bahwa radang usus dapat menghambat proses penyerapan nutrisi dari makanan. Pertumbuhan rambut itu sendiri memerlukan asupan nutrisi yang disalurkan lewat aliran darah. Jika Anda kekurangan nutrisi, rambut akan mudah rontok.

  1. Kuku tidak mudah patah

Menurut dr. Sara Noris dari Healthline, dokter naturopati dari Los Angeles, kesehatan kuku juga mencerminkan seberapa baik kerja pencernaan Anda. Sistem cerna yang bermasalah dapat menyebabkan penyerapan nutrisi tubuh jadi terhambat sehingga kuku bertumbuh mudah rapuh, lemah, dan gampang mengelupas.

Tips menjaga kesehatan sistem pencernaan 

Jika setelah membaca ciri-ciri di atas Anda curiga kerja pencernaan kurang baik, tenang dulu. Berbagai cara di bawah ini dapat membantu Anda mengoptimalkannya agar senantiasa terhindar dari masalah perut.

  1. Banyak makan serat

Makanan yang mengandung serat sudah terbukti dapat meningkatkan kesehatan pencernaan Anda.

Asupan serat dapat membantu melancarkan gerak makanan di dalam usus dan memadatkan berat feses tapi tidak mengeraskannya. Hal ini dapat menghindari Anda dari risiko sembelit dan berbagai gangguan lainnya, seperti radang usus, wasir, dan sindrom iritasi usus besar (IBS). Selain itu, rutin makan serat dapat membantu Anda mencapai atau mempertahankan berat badan ideal.

Anda bisa mengonsumsi serat sehat dari kacang-kacangan, sayuran hijau, biji-bijian, dan buah.

  1. Kurangi makan lemak

Untuk menjaga sistem pencernaan tetap sehat, Anda harus membatasi makanan berlemak seperti daging. Makanan berlemak memperlambat proses cerna sehingga membuat Anda rentan mengalami sembelit.

Namun, ini bukan berarti Anda harus menghindari lemak sama sekali. Dapatkanlah asupan lemak dari sumber yang sehat, misalnya dari ikan atau buah alpukat yang mengandung asam lemak omega 3. jika ingin makan daging hewani, pilihlah potongan tanpa lemak.

  1. Mengonsumsi probiotik

Probiotik adalah jenis bakteri baik yang banyak terdapat dalam makanan fermentasi, seperti yogurt, kefir, atau bahkan tempe. Bakteri baik dari probiotik dapat menetralkan jumlah bakteri jahat dan melancarkan kerja sistem pencernaan.

Selain itu, probiotik dapat meningkatkan penyerapan nutrisi, membantu memecah laktosa, memperkuat sistem kekebalan tubuh Anda, dan mungkin bahkan membantu mengobati IBS.

  1. Makan sesuai jadwal

Selain asupan makanan yang diatur, Anda juga harus mengatur jadwal makan yang baik untuk mewujudkan sistem pencernaan yang sehat.

Makan makanan 3 kali sehari dalam porsi normal sembari makan camilan sehat seperti salad dan buah secara teratur dapat membantu menjaga sistem cerna tubuh Anda tetap prima.

  1. Jangan lupa minum air

Memperbanyak konsumsi serat harus diimbangi dengan minum air mineral yang cukup untuk menjaga kesehatan pencernaan Anda. Serat berfungsi untuk menarik air ke dalam usus besar dan membuat feses jadi yang lebih lunak sehingga mudah dikeluarkan. Anda pun terhindar dari sembelit dan wasir.

  1. Berolahraga teratur

Olahraga teratur membantu menjaga makanan tetap bergerak lancar melalui sistem pencernaan Anda. Selain itu, oahraga juga dapat membantu Anda mempertahankan berat badan yang ideal.

  1. Jangan stres terlalu lama

Terlalu lama stres atau cemas dapat menyebabkan sistem pencernaan Anda bekerja lebih berat. Untuk menghindari stres, Anda peru membiasakan tidur cukup minimal 7 jam setiap malam dan mungkin juga melakukan meditasi. dr. Tania Safitri

Menstrual Hiegiene Day

Hari ini, dunia memperingati Menstrual Hygiene Day atau Hari Kebersihan Menstruasi. Perayaan ini diinisiasi pada 2013 oleh organisasi non-pemerintah asal Jerman, Wash United. Hanya saja perayaan Hari Kebersihan Menstruasi ini baru dirayakan setahun setelahnya, pada 28 Mei 2014 sampai sekarang.

Garda Terdepan

Buat para pejuang garda terdepan terimakasih untuk segala pengorbanan yang telah diberikan

Hari Hipertensi

cek tekanan darah secara teratur merupakan salah satu kunci untuk mengontrol hipertensi. Dengan memantau tekanan darah Anda secara rutin, maka Anda bisa segera melakukan tindak pencegahan ketika tekanan darah terus-menerus lebih tinggi dari biasanya.

Orang yang mengalami hipertensi umumnya memiliki tekanan darah di atas 140/90 mmHg setiap kali dilakukan pemeriksaan. Saat itu terjadi, maka jantung Anda telah bekerja sangat keras untuk memompa darah dan berisiko mengalami gangguan tertentu.

Hari Lupus Dunia

10 Mei diperingati sebagai  Hari Lupus Sedunia. Lupus adalah penyakit kronis serius yang mengubah hidup dan dapat berakibat fatal sehingga mengancam jiwa penyandangnya. Dibutuhkan pemahaman tentang Lupus dan dukungan mendalam untuk orang yang terkena /ODAPUS (Orang dengan Lupus) dan keluarganya  yang terkena dampak penyakit ini. Kementerian Kesehatan RI mengajak seluruh stake holder yaitu Pemerintah(Pusat dan Daerah),  Organisasi Profesi, Penyandang/ODAPUS dan Pendamping seperti Keluarga ODAPUS, Komunitas/Paguyuban atau LSM/Yayasan untuk bersama sama bergandeng tangan dan tetap tegar menghadapi LUPUS (“Stand For Lupus, Together We Can”).

Lupus adalah penyakit radang / penyakit autoimun dimana  kondisi sistem imunitas atau kekebalan tubuh seseorang kehilangan kemampuan untuk membedakan substansi asing (non-self) dengan sel dan jaringan tubuh sendiri (self). Kondisi ini membuat sistem kekebalan tubuh menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh  sendiri yang sehat. Peradangan akibat hal ini dapat mempengaruhi berbagai organ tubuh termasuk kulit, ginjal, otak, sel darah, paru-paru, jantung dan persendian.

Lupus merupakan penyakit inflamasi sistemik autoimun kronis yang belum jelas penyebabnya. Penyakit ini terutama menyerang wanita usia produktif (15-50 tahun) dengan angka kematian yang cukup tinggi, meski begitu lupus juga dapat menyerang laki-laki, anak-anak, dan remaja.

Penyakit Lupus dapat menjadi beban sosio-ekonomi bagi masyarakat dan negara karena penyakit ini memerlukan pengobatan dan penatalaksanaan yang tidak sederhana, dan melibatkan banyak bidang keahlian tertentu. Selain itu  biaya perawatan /pemgobatan yang harus dikeluarkan  relatif mahal dan berlangsung seumur hidup.

World Health Organization mencatat jumlah penderita lupus di dunia hingga saat ini mencapai lebih lima juta orang, dan setiap tahunnya ditemukan lebih dari 100 ribu kasus baru. Kondisi ini mempengaruhi masyarakat global dari semua kebangsaan, etnis, ras, usia dan jenis kelamin. Meskipun kondisi ini tidak memiliki batasan, memahami lupus dapat membantu mengendalikan dampaknya. Untuk itu penting sekali bersama sama  dengan masyarakat global berupaya  untuk memastikan bahwa orang dengan Lupus didiagnosis dan diobati secara efektif. Oleh karena itu Kementerian Kesehatan RI mengajak partisipasi seluruh stake holder yaitu Pemerintah(Pusat dan Daerah),  Organisasi Profesi, Penyandang/ODAPUS dan Pendamping seperti Keluarga ODAPUS, Komunitas/Paguyuban atau LSM/Yayasan untuk bersama sama bergandeng tangan dan tetap tegar menghadapi LUPUS (“Stand For Lupus, Together We Can”).

Penyakit Seribu Wajah 

Lupus terdiri dari beberapa macam jenis, salah satu jenis yang paling sering dirujuk masyarakat umum adalah Lupus Eritematosus Sistemik (LES). Lupus dikenal sebagai penyakit ‘Seribu Wajah’ merupakan penyakit inflamasi autoimun kronis yang hingga kini belum jelas penyebabnya. Lupus juga memiliki sebaran gambaran klinis yang luas serta tampilan perjalanan penyakit yang beragam, sehingga seringkali menimbulkan kekeliruan dalam upaya mengenalinya. Lupus dapat menyerang jaringan serta organ tubuh mana saja dengan tingkat gejala yang ringan hingga parah.

Meski hingga kini faktor risiko Lupus belum diketahui secara jelas, namun faktor genetik, imunologik dan hormonal, serta lingkungan diduga memegang peran penting sebagai pemicu.

  • Faktor genetik : diketahui bahwa sekitar 7% pasien LES memiliki keluarga dekat (orang tua atau saudara kandung) yang juga didiagnosis LES.
  • Faktor lingkungan : infeksi, stres, makanan, antibiotik (khususnya kelompok sulfa dan penisilin), cahaya ultraviolet (matahari), penggunaan obat-obatan tertentu, merokok, paparan kristal silica.
  • Faktor hormonal : umumnya perempuan lebih sering terkena penyakit Lupus dibandingkan laki-laki. Meningkatnya angka pertumbuhan penyakit Lupus sebelum periode menstruasi atau selama kehamilan mendukung dugaan hormon estrogen menjadi pencetus penyakit Lupus.

Lupus memiliki gejala yang mirip dengan penyakit lain, sehingga sulit untuk dideteksi. Tingkat keparahannya pun beragam mulai dari ringan hingga yang mengancam jiwa. Gejala Lupus dapat timbul secara tiba-tiba atau berkembang perlahan. Pasien Lupus  dapat mengalami gejala yang bertahan lama atau bersifat sementara sebelum akhirnya kambuh lagi. Kesulitan dalam upaya mengenali Lupus sering kali mengakibatkan diagnosis dan penanganan yang terlambat.

Sayap Kupu Kupu dan gejala Lupus lain

Sistem kekebalan tubuh pada orang normal menghasilkan antibodi yang menyerang dan menghancurkan sel asing dan invasif seperti virus, bakteri dan kuman, namun pada orang dengan lupus, sistem kekebalan menciptakan antibodi otomatis yang menghancurkan jaringan yang sehat. Konsekuensi dari ini dapat tersebar luas, menyebabkan kerusakan, peradangan dan rasa sakit di seluruh tubuh

Mendiagnosis lupus seringkali sulit karena gejalanya menyerupai gejala penyakit umum lainnya. Tetapi, tanda utama dari kondisi ini adalah ruam wajah yang menyerupai sayap kupu-kupu. Tanda dan gejala lain termasuk:

  • Sesak napas
  • Nyeri dada yang persisten
  • Nyeri sendi, bengkak, dan kaku
  • Demam dan kelelahan
  • Jari dan jari kaki membiru ketika terkena dingin
  • Sakit kepala, kebingungan dan kehilangan ingatan

SALURI

Saluri adalah PerikSa LUpus SendiRI yaitu cara mengenali Lupus dalam diri. Sadari lupus sejak dini dengan mencermati sederet gejala dan tanda tandanya. Penting bagi masyarakat untuk dapat mengenali gejala Lupus. Penanganan yang lebih cepat dipastikan bisa meningkatkan kesejahteraan, kualitas dan harapan hidup orang dengan lupus (odapus).

Berikut  gejala-gejala yang harus diperhatikan:

  • Demam lebih dari 380C dengan sebab yang tidak jelas
  • Rasa lelah dan lemah berlebihan
  • Sensitif terhadap sinar matahari
  • Rambut rontok
  • Ruam kemerahan berbentuk kupu-kupu yang melintang dari hidung ke pipi
  • Ruam kemerahan di kulit
  • Sariawan yang tidak kunjung sembuh, terutama di atap rongga mulut
  • Nyeri dan bengkak pada persendian terutama di lengan dan tungkai, menyerang lebih dari 2 sendi dalam jangka waktu lama
  • Ujung-ujung jari tangan dan kaki pucat hingga kebiruan saat udara dingin
  • Nyeri dada terutama saat berbaring dan menarik napas panjang
  • Kejang atau kelainan saraf lainnya
  • Kelainan hasil pemeriksaan laboratorium (atas anjuran dokter) :
    • Anemia : penurunan kadar sel darah merah
    • Leukositopenia : penurunan sel darah putih
    • Trombositopenia : penurunan kadar pembekuan darah
    • Hematuria dan proteinuria : darah dan protein pada pemeriksaan urin
    • Positif ANA dan atau Anti ds-DNA.

Jika Anda mengalami minimal 4 gejala dari seluruh gejala yang disebutkan di atas, maka dianjurkan untuk segera melakukan konsultasi dengan dokter di Puskesmas atau rumah sakit agar dapat dilakukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

Anjuran untuk ODAPUS

Bagi pasien yang sudah didiagnosa menderita Lupus, berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidup sehingga penyandang Lupus/ Odapus dapat hidup normal dan melakukan aktivitas sehari-hari tanpa hambatan.

  • Hindari aktivitas fisik yang berlebihan
  • Hindari merokok
  • Hindari perubahan cuaca karena memengaruhi proses inflamasi
  • Hindari stres dan trauma fisik
  • Diet khusus sesuai organ yang terkena
  • Hindari paparan sinar matahari secara langsung, khususnya UV pada pukul 10.00 hingga 15.00
  • Gunakan pakaian tertutup dan tabir surya minimal SPF 30PA++ 30 menit sebelum meninggalkan rumah
  • Hindari paparan lampu UV
  • Hindari pemakaian kontrasepsi atau obat lain yang mengandung hormon estrogen
  • Kontrol secara teratur ke dokter
  • Minum obat secara teratur

Hingga saat ini Lupus  belum dapat disembuhkan. Tujuan pengobatan adalah untuk mendapatkan remisi panjang, mengurangi tingkat gejala, mencegah kerusakan organ, serta meningkatkan kesintasan. Berkat teknologi pengobatan Lupus yang terus berkembang, sebagian penderita Lupus dapat hidup normal atau setidaknya mendekati tahap normal. Dukungan keluarga, teman, tenaga kesehatan, pemerhati Lupus juga berperan penting dalam membantu para penyandang Lupus dalam menghadapi penyakitnya.

Lupus merupakan penyakit tidak menular , penyakit ini sendiri dapat dikendalikan sehingga penderita dapat menjalani kehidupannya secara mandiri. Peranan keluarga dan orang-orang terdekat merupakan satu hal yang panting untuk disampaikan kepada keluarga ODAPUS (Orang dengan Lupus).

Untuk meningkatkan penemuan Lupus pada masyarakat dapat dilakukan dengan sosialisasi SALURI (Periksa Lupus Sendiri) pada saat kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan, talk show, seminar serta penyebarluasan informasi melalui berbagai platform tentang Lupus agar pemahaman masyarakat meningkat sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Selamat Hari Lupus Sedunia 2019, mari bersama tingkatkan kepedulian dan dukungan untuk Odapus dan keluarganya, salam sehat.

Oleh : P2PTM Kemenkes RI

Hari Asma Dunia

Asma adalah jenis penyakit jangka panjang atau kronis pada saluran pernapasan yang ditandai dengan peradangan dan penyempitan saluran napas yang menimbulkan sesak atau sulit bernapas. Selain sulit bernapas, penderita asma juga bisa mengalami gejala lain seperti nyeri dada, batuk-batuk, dan mengi. Asma bisa diderita oleh semua golongan usia, baik muda atau tua.

Meskipun penyebab pasti asma belum diketahui secara jelas, namun ada beberapa hal yang kerap memicunya, seperti asap rokok, debu, bulu binatang, aktivitas fisik, udara dingin, infeksi virus, atau bahkan terpapar zat kimia.

Bagi seseorang yang memiliki penyakit asma, saluran pernapasannya lebih sensitif dibandingkan orang lain yang tidak hidup dengan kondisi ini. Ketika paru-paru teriritasi pemicu di atas, maka otot-otot saluran pernapasan penderita asma akan menjadi kaku dan membuat saluran tersebut menyempit. Selain itu, akan terjadi peningkatan produksi dahak yang menjadikan napas teras berat.

Penderita asma di Indonesia

Laporan riset kesehatan dasar oleh Kementrian Kesehatan RI tahun 2013 memperkirakan jumlah pasien asma di Indonesia mencapai 4.5 persen dari total jumlah penduduk. Provinsi Sulawesi Tengah menduduki peringkat penderita asma terbanyak sebanyak 7.8 persen dari total penduduk di daerah tersebut.

Menurut data yang dikeluarkan WHO pada bulan Mei tahun 2014, angka kematian akibat penyakit asma di Indonesia mencapai 24.773 orang atau sekitar 1,77 persen dari total jumlah kematian penduduk. Setelah dilakukan penyesuaian umur dari berbagai penduduk, data ini sekaligus menempatkan Indonesia di urutan ke-19 di dunia perihal kematian akibat asma.

Diagnosis asma

Untuk mengetahui apakah seorang pasien menderita penyakit asma, maka dokter perlu melakukan sejumlah tes. Namun sebelum tes dilakukan, dokter biasanya akan mengajukan pertanyaan pada pasien mengenai gejala apa saja yang dirasakan, waktu kemunculan gejala tersebut, dan riwayat kesehatan pasien serta keluarganya.

Jika seluruh keterangan yang diberikan pada pasien mengarah pada penyakit asma, maka selanjutnya dokter bisa melakukan tes untuk memperkuat diagnosis, misalnya:

  • Spirometri
  • Tes Arus Puncak Ekspirasi (APE)
  • Uji Provokasi Bronkus
  • Pengukuran Status Alergi
  • CT Scan
  • Rontgen

Jika seseorang terdiagnosis mengidap asma saat kanak-kanak, gejalanya mungkin bisa menghilang ketika dia remaja dan muncul kembali saat usianya lebih dewasa. Kendati begitu, asma bisa muncul di usia berapa pun dan tidak selalu berawal dari masa kanak-kanak.

Pengobatan asma

Ada dua tujuan dalam pengobatan penyakit asma, yaitu meredakan gejala dan mencegah gejala kambuh. Untuk mendukung tujuan tersebut, diperlukan rencana pengobatan dari dokter yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Rencana pengobatan meliputi cara mengenali dan menangani gejala yang memburuk, serta obat-obatan apa yang harus digunakan.

Penting bagi pasien untuk mengenali hal-hal yang dapat memicu asma mereka agar dapat menghindarinya. Jika gejala asma muncul, obat yang umum direkomendasikan adalah inhaler pereda.

Bilamana terjadi serangan asma dengan gejala yang terus memburuk (secara perlahan-lahan atau cepat) meskipun sudah ditangani dengan inhaler atau obat-obatan lainnya, maka penderita harus segera mendapatkan penanganan di rumah sakit. Meski jarang terjadi, serangan asma bisa saja membahayakan nyawa. Bagi penderita asma kronis, peradangan pada saluran napas yang sudah berlangsung lama dan berulang-ulang bisa menyebabkan penyempitan permanen.

Serangan asma di rumah sakit bisa menyebabkan pasien mengalami gagal napas dan perlu mendapatkan pertolongan secepat mungkin (code blue asma).

Komplikasi asma

Berikut ini adalah dampak akibat penyakit asma yang bisa saja terjadi:

  • Masalah psikologis (cemas, stres, atau depresi).
  • Menurunnya performa di sekolah atau di pekerjaan.
  • Tubuh sering terasa lelah.
  • Gangguan pertumbuhan dan pubertas pada anak-anak.
  • Status asmatikus (kondisi asma parah yang tidak respon dengan terapi normal).
  • Pneumonia.
  • Gagal pernapasan.
  • Kerusakan pada sebagian atau seluruh paru-paru dan ateletaksis
  • Kematian.

Mengendalikan penyakit asma

Jika Anda kebetulan mengidap asma atau hidup dengan asma sejak lama, jangan cemas dengan kondisi ini karena asma merupakan penyakit yang masih dapat dikendalikan asalkan Anda:

  • Mengenali dan menghindari pemicu asma.
  • Mengikuti rencana penanganan asma yang dibuat bersama dokter.
  • Mengenali serangan asma dan melakukan langkah pengobatan yang tepat.
  • Menggunakan obat-obatan asma yang disarankan oleh dokter secara teratur.
  • Memonitor kondisi saluran napas Anda.

Jika penggunaan inhaler pereda asma reaksi cepat makin meningkat, segera konsultasikan kepada dokter agar rencana penanganan asma Anda disesuaikan kembali. Selain itu, disarankan untuk melakukan vaksinasi influenza dan pneumonia secara teratur untuk mencegah memburuknya penyakit asma yang disebabkan kedua penyakit tersebut.

 

 

Ruang Laktasi

Kegelisahan bagi ibu bekerja yang telah menyelesaikan cuti melahirkan selama tiga bulan adalah kurangnya waktu untuk memberikan ASI Eksklusif bagi anaknya. Seperti kita tahu, kegiatan menyusui bayi baru lahir secara eksklusif selama 6 bulan adalah penting, hal ini dikarenakan ASI adalah nutrisi pertama yang mengandung sistem imun terbaik bagi bayi yang baru lahir dan dilakukan sampai dengan bayi berumur dua tahun. Pada seribu hari pertama kehidupan, komponen pemberian ASI sangat penting dan dapat mendukung tumbuh kembang anak.

Menjawab kegelisahan para ibu bekerja agar dapat melaksanakan kewajibannya memberikan ASI Eksklusif bagi buah hatinya, pemerintah memberikan dukungannya dengan menerbitkan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Pemberian ASI Eksklusif (Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Ekskusif). Namun, di satu sisi pemberian ASI Eksklusif bagi anak belum sepenuhnya mendapat dukungan dari berbagai pihak. Hal ini dapat dilihat dari masih sedikitya ruang laktasi yang terdapat di kantor pemerintah maupun swasta. Waktu ibu bekerja selama delapan jam sering kali menyebabkan ibu tidak mempunyai waktu yang cukup untuk menyusui anaknya. Selain itu, di satu sisi kesempatan memerah ASI tidak diberikan secara leluasa di tempat kerja.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah Air Susu Ibu. Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah ASI yang selanjutnya disebut dengan Ruang ASI adalah ruangan yang dilengkapi dengan prasarana menyusui dan memerah ASI yang digunakan untuk menyusui bayi, memerah ASI, menyimpan ASI perah, dan/atau konseling menyusui ASI.

Pasal 3 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah Air Susu Ibu disebutkan bahwa Pengurus Tempat Kerja dan Penyelenggara tempat Sarana Umum harus mendukung program ASI Eksklusif. Dukungan tersebut dapat berupa penyediaan fasilitas khusus untuk menyusui dan/atau memerah ASI, pemberian kesempatan kepada ibu yang bekerja untuk memberikan ASI Eksklusif kepada bayi atau memerah ASI selama waktu kerja di tempat kerja, pembuatan peraturan internal yang mendukung keberhasilan program pemberian ASI Eksklusif, dan penyediaan tenaga terlatih pemberi ASI.

Ruang ASI diselenggarakan pada bangunan yang permanen, dapat merupakan ruang tersendiri atau merupakan bagian dari tempat pelayanan kesehatan yang ada di tempat kerja dan tempat sarana umum. Setiap tempat kerja dan tempat sarana umum harus menyediakan sarana dan prasarana Ruang ASI sesuai dengan standar minimal dan sesuai dengan kebutuhan. Pasal 10 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui Dan/Atau Memerah Air Susu Ibu menyebutkan persyaratan kesehatan Ruang ASI paling sedikit meliputi :

  1. tersedianya ruangan khusus dengan ukuran minimal 3×4 m2 dan/atau disesuaikan dengan jumlah pekerja perempuan yang sedang menyusui;
  2. ada pintu yang dapat dikunci, yang mudah dibuka/ditutup;
  3. lantai keramik/semen/karpet;
  4. memiliki ventilasi dan sirkulasi udara yang cukup;
  5. bebas potensi bahaya di tempat kerja termasuk bebas polusi;
  6. lingkungan cukup tenang jauh dari kebisingan;
  7. penerangan dalam ruangan cukup dan tidak menyilaukan;
  8. kelembapan berkisar antara 30-50%, maksimum 60%; dan
  9. tersedia wastafel dengan air mengalir untuk cuci tangan dan mencuci peralatan.

Adapun Peralatan Ruang ASI di Tempat Kerja sekurang-kurangnya terdiri dari peralatan menyimpan ASI dan peralatan pendukung lainnya sesuai standar. Peralatan tersebut setidaknya terdiri dari lemari pendingin (refrigerator) untuk menyimpan ASI; gel pendingin (ice pack); tas untuk membawa ASI perahan (cooler bag); sterilizer botol ASI; meja tulis; kursi dengan sandaran untuk ibu memerah ASI; konseling menyusui kit yang terdiri dari model payudara, boneka, cangkir minum ASI, spuit 5cc, spuit 10 cc, dan spuit 20 cc; media KIE tentang ASI dan inisiasi menyusui dini yang terdiri dari poster, foto, leaflet, booklet, dan buku konseling menyusui; lemari penyimpan alat; dispenser dingin dan panas; alat cuci botol; tempat sampah dan penutup; penyejuk ruangan (AC/Kipas angin); nursing apron/kain pembatas/ pakai krey untuk memerah ASI; waslap untuk kompres payudara; tisu/lap tangan; dan bantal untuk menopang saat menyusui. Sedangkan standar untuk Ruang ASI di tempat sarana umum sekurang-kurangnya meliputi kursi, meja, wastafel dan sabun cuci tangan.

Keberadaan ruang ASI di tempat kerja atau tempat sarana umum harus menjadi perhatian serius bagi berbagai pihak. Adanya ruang ASI yang layak bukan hanya sebagai bentuk pemenuhan kewajiban penyelenggara kerja saja namun juga dapat membuat pekerja perempuan lebih nyaman dalam bekerja, sehingga dapat meningkatkan loyalitas dan produktivitas para pekerja perempuan di tempat kerja.

Hari Demam Berdarah

Hari ini adalah diperingati sebagai hari Demam Berdarah.

Demam berdarah dengue (DBD) memiliki 3 fase, yaitu fase demam, kritis, dan pemulihan. Ketiga fase demam berdarah ini penting sekali untuk dipahami agar dapat dilakukan penanganan yang optimal.

Virus DBD menginfeksi manusia melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti dan Aedes Albopictus. Jika tidak ditangani dengan benar, penyakit DBD dapat menyebabkan perdarahan yang dapat mengakibatkan syok dan kematian.

Fase-Fase Demam Berdarah Dengue

Pasien demam berdarah dengue biasanya akan mengalami 3 fase, mulai dari gejala muncul untuk pertama kalinya hingga pemulihan. Berikut adalah ketiga fase demam berdarah tersebut:

Fase demam (febrile phase)

Pada fase ini, pasien akan mengalami demam tinggi hingga 40º Celsius yang berlangsung selama 2-7 hari. Selain itu, pasien juga akan mengalami beberapa gejala lain, seperti mual, muntah, sakit kepala, sakit tenggorokan, muncul bintik-bintik kemerahan di kulit, serta nyeri otot, tulang, dan sendi.

Dalam fase ini, dokter akan memantau jumlah keping darah (trombosit), karena biasanya jumlah trombosit mengalami penurunan dengan cepat hingga kurang dari 100.000/mikroliter darah. Penurunan jumlah trombosit ini terjadi dalam waktu singkat, yaitu 2-3 hari.

Fase kritis (critical phase)

Setelah melewati fase demam, banyak pasien merasa dirinya telah sembuh karena suhu tubuhnya mulai turun. Padahal, ini justru fase demam berdarah yang paling berbahaya, karena kemungkinan bisa terjadi perdarahan dan kebocoran plasma darah yang akan menyebabkan syok dan berpotensi mengancam nyawa.

Fase kritis dapat terjadi 3-7 hari sejak demam dan berlangsung selama 24-48 jam. Pada fase ini, cairan tubuh penderita harus dipantau ketat. Pasien tidak boleh kekurangan maupun kelebihan cairan.

Pada beberapa kasus, pasien dapat mengalami syok atau penurunan tekanan darah yang drastis, serta perdarahan pada kulit, hidung, dan gusi. Apabila tidak ditangani segera, kondisi ini dapat berujung pada kematian.

Fase pemulihan (recovery phase)

Setelah melewati fase kritis, pasien akan memasuki fase pemulihan. Fase ini akan terjadi 48-72 jam setelah fase kritis.

Di fase ini, cairan yang keluar dari pembuluh darah akan kembali masuk ke dalam pembuluh darah. Oleh karena itu, sangat penting menjaga cairan yang masuk agar tidak berlebihan. Cairan berlebih dalam pembuluh darah dapat menyebabkan kematian akibat gagal jantung dan edema paru.

Kadar trombosit pun akan meningkat dengan cepat hingga mencapai angka sekitar 150.000/mikroliter darah, sampai kemudian kembali ke kadar normal.

Dalam penanganan DBD, sebenarnya tidak ada pengobatan khusus yang dapat diberikan. Penderita hanya disarankan untuk banyak beristirahat dan minum air putih yang banyak untuk mencegah dehidrasi. Bila perlu, dokter akan memberikan cairan melalui infus. Selain itu, dokter juga akan memberikan obat penurun panas untuk meredakan demam.

Selama melalui fase-fase demam berdarah di atas, kondisi penderita harus terus dipantau. Bila muncul keluhan berupa sesak napas, keluar keringat dingin, atau terjadi perdarahan, segeralah ke IGD di rumah sakit terdekat.

sosial distancing

Bagaimana sih cara menjaga jarak untuk mencegah penularan covid-19???

yuk kita ikuti sobat sehat…..

Stay Home

kalau tidak penting sekali jangan keluar rumah ya sobat sehat……

yuk kita membantu penanganan covid-19 dengan memutus rantai penularan dengan STAY@HOME….